Ada yang sangat menarik di semua media sosial tentang sosok Jokowi yang mendapatkan simpati luar biasa terlepas mengenal atau tidaknya sosok Jokowi secara dekat, jika kita menulis tentang kelemahan Foke maka tak ada satupun kata menolak dengan banyak kelemahan dan kegagalannya tetapi jika menelisik tentang sisi lemah Jokowi rame-rame semua membantah bahkan para pendukung fanatiknya kerap mencap sebagai kalangan yang kurang mengenal Jokowi. Benarkah Jokowi sesempurna itu sebagai calon pemimpin yang tanpa cela? Atau benarkah Foke gagal dalam segala bidang dalam mengurus kompleksitas Permasalahan Jakarta yang akut?
Banyak kalangan yang ragu dengan kepemimpinan masa depan Jakarta maka tidak heran jika sesungguhnya Golput adalah pemenang sejati Pemilukada DKI putaran pertama, siapapun pemimpinya, Jakarta tetaplah susah untuk diperbaiki apalagi hanya untuk lima tahun kedepan. Namun demikian, harapan positif tentu saja selalu ada sebagaiman ditunjukan para pemilih dalam Pemilukada DKI putaran pertama yang memenangkan calon baru dengan harapan yang baru. Bagi kalangan independen sesungguhnya memunculkan harapan akan pilihan dari calon independen yang terlepas dari kepentingan Partai Politik yang selama ini di Stigmatisasi sebagai kalangan yang Korup.
Bagaimana dengan Jokowi? Sosok fenomenal yang sederhana dan santun adanya itu, tentu saja publik mempercayai personality menarik dari Jokowi dengan track record sederhana yang cukup sukses membenahi Kota Solo. Kita tidak menafikan bahwa saat ini Jokowi-Ahok diusung partai besar yaitu PDIP dan Gerindra, jika menelisik kekuatan dua partai tersebut maka banyak kalangan percaya jika sebenarnya dana kampanye Jokowi jauh lebih besar dari empat kandidat lainnya selain Foke. PDIP dan Gerindra sejatinya dua partai dengan dana yang juga luar biasa ketika melakukan kampanye Pilpers dan Pemilu medio 2009 lalu.
Jika demikian maka sebenarnya pencalonan Jokowi dari kalangan Parpol banyak disangsikan terkait keberpihakannya secara menyeluruh kepada kepentingan masyarakat. Mafhum adanya jika Parpol kerap menyandera para pemimpin-pemimpin yang telah diajukannya untuk kepentingan Politik baik itu pendanaan sebagaimana umumnya ataupun hanya untuk sebuah pencitraan atau kredit politik. Kalau demikian adanya tentu saja tidak ada yang benar-benar tulus membangun Jakarta dalam aspek keberpihakannya kepada Masyarakat.
Pilihan-pilihan politik dalam putaran pertama yang memenangkan Jokowi-Ahok tentu saja sah-sah saja sebagai sebuah fenomena sekaligus memunculkan harapan baru bagi Jakarta, tetapi ekspektasi publik yang berlebihan pada akhirnya akan menyandera sosok Jokowi dalam ruang yang tidak rasional. Hal ini terjadi dengan Partai Demokrat yang mendapatkan apresiasi luar biasa di Pemilu 2009 tetapi hanya berselang tiga tahun saja partai ini benar-benar terpuruk citra dan kinerja sebagaimana ditunjukan oleh riset lembaga survey.
Jika demikian seharusnya para pemilih yang akan menentukan pilihannya juga diputaran kedua mencermati segala sesuatunya dengan rasional, Jokowi-Ahok tentu saja bukan malaikat yang diturunkan di Jakarta yang tiba-tiba akan membuat Jakarta tertib, aman, anti macet dan anti banjir. Begitupun dengan Foke apakah akan diberi kesempatan kedua kalinya manakala sang ahli putera betawi ini tidak begitu menonjol dalam mengurus Jakarta yang lebih baik, semoga saja kalangan Golput akan menentukan pilihannya paling tidak untuk masa depan Jakarta lima tahun kedepan, semoga.